<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Portofolio Kehidupan</title>
	<atom:link href="http://reinhardnainggolan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com</link>
	<description>To Find an Equilibrium</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 Dec 2010 09:47:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='reinhardnainggolan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/560a878cbc4d46c5b5b43d7f6487eaa3?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Portofolio Kehidupan</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://reinhardnainggolan.wordpress.com/osd.xml" title="Portofolio Kehidupan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menggugat Integritas Industri Keuangan Kita</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/menggugat-integritas-industri-keuangan-kita/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/menggugat-integritas-industri-keuangan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 21:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[                                                                   Oleh: Reinhard Nainggolan Kasus penyelewengan dana nasabah di Bank Century dan Sarijaya Permana Sekuritas telah menimbulkan berbagai persoalan baru dalam kehidupan sehari-hari para korban. Lebih dari itu, masyarakat semakin gencar mempertanyakan integritas industri keuangan kita. Kepercayaan adalah sebuah taruhan teramat besar bila kedua kasus ini tak kunjung selesai. &#8220;Masihkan kami dapat percaya pada lembaga keuangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=162&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong><em>                                                                   </em></strong><strong><em>Oleh: Reinhard Nainggolan<img class="size-medium wp-image-191 alignleft" title="Waspadalah" src="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/fraud33.jpg?w=194&#038;h=300" alt="Waspadalah" width="194" height="300" /></em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong><em>Kasus penyelewengan dana nasabah di Bank Century dan Sarijaya Permana Sekuritas telah menimbulkan berbagai persoalan baru dalam kehidupan sehari-hari para korban. Lebih dari itu, masyarakat semakin gencar mempertanyakan integritas industri keuangan kita. Kepercayaan adalah sebuah taruhan teramat besar bila kedua kasus ini tak kunjung selesai.<span id="more-162"></span></em></strong></p>
<p><strong>&#8220;Masihkan kami dapat percaya pada lembaga keuangan di Indonesia? Kami sudah lelah, kami sedih, kami gelisah.&#8221;</strong></p>
<p><strong>Sepenggal surat elektronik itu dikirim oleh Hana, seorang nasabah Bank Century. Belakangan ini ia selalu cemas akan nasib ratusan juta rupiah uangnya di bank tersebut.</strong></p>
<p><strong>Bagi Hana, uang sebanyak itu cukup besar karena merupakan tabungan selama 10 tahun lebih dan rencananya akan digunakan membeli rumah. Namun, cita- citanya itu terpaksa batal karena sampai saat ini pengembalian dana ratusan nasabah Bank Century senilai Rp 1,45 triliun tidak jelas.</strong></p>
<p><strong>Jika Hana selalu cemas, maka Yulia, seorang korban lainnya, mengaku sejak dua bulan terakhir terjangkit insomnia. Hampir setiap malam nenek berusia 60 tahun itu tidak bisa tidur memikirkan bagaimana cara memberi tahu sang suami bahwa uang mereka di Bank Century sebesar Rp 1 miliar lebih telah digelapkan.</strong></p>
<p><strong>Di usia yang tidak lagi produktif, bunga dari uang hasil jerih payah selama 30 tahun itu merupakan satu-satunya sumber pembiayaan hidup mereka sehari-hari. &#8220;Karena itu, saya tidak tega memberi tahu suami saya,&#8221; kata Yulia.</strong></p>
<p><strong>Belum lagi kasus Bank Century lekang dari pemberitaan media massa, masyarakat kembali dikejutkan kasus penggelapan dana nasabah di PT Sarijaya Permana Sekuritas senilai Rp 245 miliar. Kasus Sarijaya ini kembali memaksa mereka untuk mempertanyakan integritas industri keuangan negeri ini. Mereka tidak lagi mempersoalkan kerugian akibat anjloknya harga saham hingga 50 persen menyusul krisis keuangan global, melainkan kerugian akibat kejahatan yang timbul karena lemahnya pengawasan.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Kejadian ini sudah pasti menurunkan kepercayaan saya untuk berinvestasi di pasar modal. Saya mungkin akan berinvestasi lagi kalau otoritas mampu membuktikan bahwa dana nasabah bisa kembali,&#8221; kata Nata Pringgasta, seorang nasabah Sarijaya.</strong></p>
<p><strong>Seakan lepas tangan</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sampai saat ini pemerintah belum pernah menjelaskan apakah dana nasabah Bank Century dan Sarijaya dapat kembali atau tidak. Pejabat Bank Indonesia serta Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) malah seakan lepas tangan dengan menyatakan masalah dana nasabah sedang ditangani kepolisian karena merupakan tindak pidana.</strong></p>
<p><strong>Bagaikan tidak bersalah ketika membujuk para nasabah untuk membeli produk fiktif, Bank Century juga menolak bertanggung jawab. Jajaran direksinya menilai reksa dana fiktif itu bukan produk Bank Century, melainkan produk pasar modal yang dikeluarkan Antaboga Deltasekuritas Indonesia.</strong></p>
<p><strong>Di pihak lain, Bapepam-LK membantah reksa dana itu sebagai produk pasar modal karena tidak pernah terdaftar. Bantahan itu cukup logis, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan, apakah pengawasan terhadap produk-produk investasi fiktif bukan merupakan tugas Bapepam-LK? Lantas bagaimana dengan Sarijaya yang resmi terdaftar?</strong></p>
<p><strong>Menanggapi pertanyaan itu, Bapepam-LK hanya menyatakan, masyarakat harus selalu hati-hati membeli produk investasi karena tidak dapat sepenuhnya diawasi. &#8220;Amerika yang sistem dan peraturannya sudah sedemikian maju saja bisa dibobol si Maddof,&#8221; kata Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany.</strong></p>
<p><strong>Ironis</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Bagi para korban Bank Century dan Sarijaya, berbagai pernyataan otoritas keuangan di atas sungguh sebuah ironi. Di mata mereka, perbankan dan pasar modal merupakan institusi yang patut dipercaya karena selama ini otoritas selalu mengklaim telah melakukan pengawasan dengan ketat dan benar.</strong></p>
<p><strong>Seorang korban Bank Century di Makassar, Sulawesi Selatan, menceritakan, satu waktu ia membeli pasir sebanyak satu mobil pick up untuk keperluan renovasi pagar rumah. Keesokan harinya, petugas tata kota sudah tiba di depan mata sambil menanyakan surat izin mendirikan bangunan (IMB).</strong></p>
<p><strong>&#8220;Bagaimana pemerintah bisa tidak mengetahui kecurangan yang sudah berlangsung enam tahun. Baru satu hari tumpukan pasir di depan rumah, petugas IMB sudah datang,&#8221; kata Herman yang menanamkan Rp 3 miliar lebih dananya di Bank Century.</strong></p>
<p><strong>Kelalaian</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Anggota Komisi XI DPR Drajad H Wibowo mengatakan, penyelewengan dana di Bank Century dan Sarijaya jelas karena kelalaian BI dan Bapepam-LK. &#8220;Kalau BI dan Bapepam menjalankan fungsi pengawasannya dengan baik, tentu produk fiktif yang beredar luas di masyarakat itu sudah diketahui sejak lama,&#8221; katanya.</strong></p>
<p><strong>Adapun bagi pengamat pasar modal, Yanuar Rizky, berbagai pernyataan otoritas di atas hanyalah untuk mencari pembenaran, bahwa apa yang terjadi di Bank Century dan Sarijaya adalah hal yang biasa. Namun, pernyataan tersebut justru menunjukkan lemahnya pengawasan serta ketidakberdayaan oto- ritas mengantisipasi berbagai praktik kecurangan yang selama ini terjadi di industri keuangan kita.</strong></p>
<p><strong>Asuransi rekening efek</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Bukti yang cukup sederhana adalah tidak ditegakkannya Peraturan Bapepam-LK Nomor VI.A.3 yang mewajibkan perusahaan sekuritas dan bank kustodian mengasuransikan rekening efek nasabah. Jika peraturan itu ditegakkan, nasabah Sarijaya tidak perlu khawatir terhadap pengembalian dananya karena dijamin asuransi. Sayangnya, sejak peraturan itu dikeluarkan tahun 2000, tidak satu pun rekening efek di Indonesia diasuransikan.</strong></p>
<p><strong>Namun, nasi sudah menjadi bubur. Saat ini, bagi nasabah Bank Century dan Sarijaya, yang penting bukanlah pembelaan- pembelaan diri otoritas, melainkan bukti bahwa dana mereka bisa kembali utuh.</strong></p>
<p><strong>Bukti itulah yang mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa dana yang ditempatkan di institusi keuangan resmi akan aman karena diawasi oleh otoritas yang profesional dan bertanggung jawab. Tanpa itu, masyarakat tidak akan pernah berhenti menggugat integritas industri keuangan negeri ini.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=162&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/menggugat-integritas-industri-keuangan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/fraud33.jpg?w=194" medium="image">
			<media:title type="html">Waspadalah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IPO-2: Memasyarakatkan Pasar Modal, Sebuah Mimpi&#8230;</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/memasyarakatkan-pasar-modal-sebuah-mimpi/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/memasyarakatkan-pasar-modal-sebuah-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 20:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[  Oleh: Reinhard Nainggolan  Perjokian di pasar modal Indonesia telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Praktik menggunakan jasa orang lain untuk mendapatkan saham perdana itu terjadi karena minimnya saham yang dilepas ke investor ritel. Adanya saham yang dilepas ke investor ritel membangun citra seolah pasar modal telah menyentuh masyarakat luas. Hari kedua penawaran umum perdana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=150&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong><em></em></strong></div>
<div><strong><em></em></strong></div>
<p> </p>
<div class="mceTemp">
<div id="attachment_213" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-213" title="300px-wall_street_1867" src="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/300px-wall_street_1867.jpg?w=300&#038;h=191" alt="Wall Street Dahulu Kala" width="300" height="191" /><p class="wp-caption-text">Wall Street Dahulu Kala</p></div>
</div>
<p><strong>Oleh: Reinhard Nainggolan</strong></p>
<p> <strong><em>Perjokian di pasar modal Indonesia telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Praktik menggunakan jasa orang lain untuk mendapatkan saham perdana itu terjadi karena minimnya saham yang dilepas ke investor ritel. Adanya saham yang dilepas ke investor ritel membangun citra seolah pasar modal telah menyentuh masyarakat luas.</em></strong></p>
<p><span id="more-150"></span></p>
<p><strong>Hari kedua penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham PT Adaro Energy di kawasan Semanggi Expo, Jakarta, Rabu, 9 Juli 2008 , tetap dipenuhi ratusan joki. Yang berbeda hanyalah soal penampilannya.</strong></p>
<p><strong>Di hari pertama, mayoritas joki mengenakan pakaian seadanya, bahkan banyak yang memakai sandal dan kaos oblong. Joki wanita usia separuh baya, misalnya, ada yang mengenakan kebaya seakan hendak menghadiri kondangan.</strong></p>
<p><strong>Namun, pada hari kedua, penampilan mereka sudah necis dan rapi. Joki pria memakai sepatu pantofel serta kemeja lengan panjang berhiaskan dasi. Beberapa di antara mereka bahkan mengenakan jas dan menenteng tas kerja. Joki wanita mengenakan blazer dan sepatu hak tinggi. Karena jumlahnya terbatas, pakaian dan pernak-perniknya dipakai bergantian.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Kalau mereka tidak didandani seperti ini enggak bisa dapat formulir. Sekarang lebih ketat,&#8221; kata Joan (bukan nama sebenarnya), seorang investor ritel, yang mengoordinir puluhan joki setiap kali penawaran umum perdana saham digelar.</strong></p>
<p><strong>Menurut Joan, praktik perjokian yang melibatkan perusahaan-perusahaan sekuritas itu sudah menjadi rahasia umum. Hal itu telah berlangsung lebih dari 10 tahun.</strong></p>
<p><strong>Praktik perjokian marak terjadi karena mayoritas penjamin pelaksana emisi IPO sebuah perusahaan hanya mengalokasikan sekitar 2 persen dari jumlah saham, yang dilepas ke publik untuk investor perorangan.</strong></p>
<p><strong>Sisanya, sebesar 98 persen menjadi jatah investor institusi, khususnya institusi asing. Sebagian besar dari jatah 2 persen saham yang dilepas untuk investor ritel itu pun disinyalir telah dipesan orang-orang khusus yang tengah berkuasa.</strong></p>
<p><strong>Oleh Karena itu, banyak kalangan menduga alokasi saham sekitar 2 persen kepada investor ritel hanya untuk memenuhi persyaratan yang diajukan Bapepam-LK, yaitu saham perusahaan terbuka harus dimiliki sedikitnya oleh 300 pihak.</strong></p>
<p><strong>Ironisnya, ketika yang melakukan IPO perusahaan-perusahaan yang kurang berbobot, saham yang dicadangkan untuk investor ritel cukup besar, bisa lebih dari 50 persen.</strong></p>
<p><strong>Investor ritel kerap memborong saham perusahaan yang kurang berbobot itu karena menilai harga setiap saham perdana itu murah. Namun, saat diperdagangkan di bursa, harga saham itu ternyata anjlok.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Ya begini, kalau sahamnya bagus, untuk dapat 10 lot saja susahnya minta ampun. Kalau sahamnya jelek, baru dikasih ke kita,&#8221; kata Ridwan (30), seorang investor perorangan saat ditemui di Semanggi Expo.</strong></p>
<p><strong>Mimpi</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sebuah perusahaan penjamin pelaksana emisi hanya mengalokasikan sedikit saham perdana kepada investor ritel karena terkait risiko yang harus ditanggungnya.</strong></p>
<p><strong>Vice President Danatama Makmur Vicky Ganda Saputra mengatakan, tidak adanya jaminan berapa banyak saham yang akan dibeli investor ritel menjadi risiko bagi penjamin emisi. Sementara investor institusi biasanya menyatakan komitmennya membeli saham dalam jumlah tertentu.</strong></p>
<p><strong>Minimnya alokasi saham perdana kepada investor ritel telah menutup ruang bagi masyarakat luas untuk berinvestasi di pasar modal. Tidak heran, dalam lima tahun terakhir, jumlah investor pasar modal Indonesia tidak beranjak dari angka sekitar 250.000 investor atau hanya 0,22 persen dari jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2008 yang mencapai 111,48 juta jiwa.</strong></p>
<p><strong>Padahal, di Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, rasio investor pasar modal dan angkatan kerjanya sudah berada di atas angka 40 persen.</strong></p>
<p><strong>Minimnya alokasi saham perdana untuk investor ritel juga mengakibatkan saham yang akan diperdagangkan di bursa menjadi tidak merata. Tidak terdistribusi secara luas.</strong></p>
<p><strong>Analis Independen-Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti), Yanuar Rizky, mengatakan, kondisi seperti itu rentan menimbulkan manipulasi pasar. Transaksi jual-beli saham yang terjadi sering kali menjadi semu karena adanya konspirasi di antara para pemegang saham mayoritas.</strong></p>
<p><strong>Pihak-pihak yang bersekongkol itu, lanjut Yanuar, akan dengan mudah menyetir harga saham. Saham akan dinaikkan, diturunkan, atau ditahan pada harga tertentu, bergantung pada strategi yang mereka jalankan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.</strong></p>
<p><strong>Dalam istilah pasar modal, praktik ini disebut dengan cornering the market (mendikte atau menyudutkan pasar). Adapun saham yang dipermainkan itu di Indonesia dikenal dengan &#8220;saham gorengan&#8221;.</strong></p>
<p><strong>Ketika mudah didikte, harga sebuah saham bukan refleksi dari kondisi fundamental dan teknikal saham tersebut.</strong></p>
<p><strong>Hal itu juga tidak mencerminkan kekuatan penawaran jual dan penawaran beli sebuah saham. Kondisi ekonomi, sosial politik, dan keamanan negara baik regional maupun global yang memiliki korelasi dengan saham tersebut pun tidak terwakili.</strong></p>
<p><strong>Bursa tempat saham tersebut diperdagangkan pun tidak layak dikatakan sebagai bursa yang wajar, teratur, dan efisien, melainkan bursa yang spekulatif.</strong></p>
<p><strong>Sebaliknya, apabila distribusi saham lebih merata dan berimbang, praktik cornering the market relatif sulit dilakukan. Hal itu berarti mendikte lebih banyak pihak dan itu jauh lebih rumit.</strong></p>
<p><strong>Di sini, salah satu prinsip good market governance dapat dijalankan, yaitu membatasi ruang spekulasi semaksimal mungkin dan menutup kemungkinan konspirasi dari pihak mana pun.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Sayang, otoritas bursa kita selama ini seperti tutup mata,&#8221; kata Yanuar.</strong></p>
<p><strong>Kondisi bursa Indonesia yang masih belum dapat menjamin terlaksananya perdagangan yang bersih dan teratur membuat banyak calon investor ketar-ketir dan pikir-pikir lagi untuk berinvestasi di pasar modal.</strong></p>
<p><strong>Bahkan, bukan tidak mungkin mimpi otoritas pasar modal Indonesia meningkatkan jumlah investor menjadi dua juta orang hanya akan menjadi sekadar mimpi</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=150&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/memasyarakatkan-pasar-modal-sebuah-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/300px-wall_street_1867.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">300px-wall_street_1867</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berapa IHSG di Akhir Tahun 2009</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/berapa-ihsg-di-akhir-tahun-2009/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/berapa-ihsg-di-akhir-tahun-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 18:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>
		<category><![CDATA[Polling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Reinhard Nainggolan Berapa Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2009 nanti adalah satu hal yang paling ingin diketahui para pelaku pasar modal.  Sayangnya, tidak seorangpun yang mampu memperkirakan berapa harga saham/indeks dimasa mendatang secara tepat. Jika ada yang mampu, maka dia adalah calon orang terkaya di dunia, yang akan menggantikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=124&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong></strong></p>
<p><em><strong></strong></em></p>
<div id="attachment_201" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><img class="size-full wp-image-201 " title="bej-antara-widodo-s-jusuf" src="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/bej-antara-widodo-s-jusuf.jpg?w=209&#038;h=158" alt="Antara/Widodo S Jusuf" width="209" height="158" /><p class="wp-caption-text">Antara/Widodo S Jusuf</p></div>
<p>Oleh: Reinhard Nainggolan</p>
<p><em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Berapa Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2009 nanti adalah satu hal yang paling ingin diketahui para pelaku pasar modal.  Sayangnya, tidak seorangpun yang mampu memperkirakan berapa harga saham/indeks dimasa mendatang secara tepat. </strong></em></p>
<p><em><strong>Jika ada yang mampu, maka dia adalah calon orang terkaya di dunia, yang akan menggantikan posisi Waren Buffet dan Bill Gates. Kalau dikatakan prediksinya mendekati, itu baru mungkin.</strong></em><strong> </strong></p>
<p><strong><span id="more-124"></span></strong></p>
<p><strong>Namun, sulitnya memperkirakan harga saham di masa mendatang tidak lantas membuat para analis atau siapa saja, termasuk kita-kita, berhenti memprediksi. Seorang analis bahkan mengatakan, analisa itu bukan soal benar atau salah, tetapi argument/reasonnya ?  </strong></p>
<p><strong>Karena itu, mari kita coba memperkirakan berapa IHSG pada penutupan perdagangan saham tahun 2009. Anggap saja belajar memperkirakan/menganalisa atau sekadar menguji insting. </strong></p>
<p><strong>Angkanya bisa Anda klik pada alat polling yang telah tersedia dibawah ini atau di Pages Polling pada halaman utama blog ini. Argumentasi dan reasonnya cukup Anda simpan dalam pikiran untuk kembali ditarik dan dikaji lagi di akhir 2009 nanti.</strong></p>
<p><strong>Terima kasih atas waktu Anda dan selamat memprediksi&#8230;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>tabik</strong></p>
<p><strong>Reinhard Nainggolan</strong></p>
<p> </p>
<a name="pd_a_1355283"></a><div class="PDS_Poll" id="PDI_container1355283" style="display:inline-block;"></div><script type="text/javascript" language="javascript" charset="utf-8" src="http://static.polldaddy.com/p/1355283.js"></script>
		<noscript>
		<a href="http://polldaddy.com/poll/1355283/">View This Poll</a><br/><span style="font-size:10px;"><a href="http://polldaddy.com/features-surveys/">survey software</a></span>
		</noscript>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=124&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/10/berapa-ihsg-di-akhir-tahun-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/bej-antara-widodo-s-jusuf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bej-antara-widodo-s-jusuf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Polling Ketegasan Bapepam</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/09/polling-ketegasan-bapepam/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/09/polling-ketegasan-bapepam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 16:40:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>
		<category><![CDATA[Polling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Reinhard Nainggolan Seiring dengan krisis keuangan global yang merambat ke negeri ini, praktik-praktik kecurangan (fraud) di industri pasar modal kita terendus satu demi satu. Sudahkah Bapepam-LK serius mengungkap dan menindak tegas para pelakunya? Kita mendengar banyak kasus bermunculan. Mulai dari praktik naked short selling yang diduga kuat ikut memicu jatuhnya harga-harga saham, praktik margin trading yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=98&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em><strong><img class="size-full wp-image-204 aligncenter" title="kartu-merah" src="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/kartu-merah.jpg?w=400&#038;h=318" alt="kartu-merah" width="400" height="318" /></strong></em><em><strong></strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><em><strong>Oleh: Reinhard Nainggolan</strong></em></p>
<p><em><strong>Seiring dengan</strong> <strong>krisis keuangan global yang merambat ke negeri ini, praktik-praktik kecurangan (fraud) di industri pasar modal kita terendus satu demi satu. Sudahkah Bapepam-LK serius mengungkap dan menindak tegas para pelakunya?</strong></em></p>
<p><span id="more-98"></span></p>
<p><strong>Kita mendengar banyak kasus bermunculan. Mulai dari praktik <em>naked short selling</em> yang diduga kuat ikut memicu jatuhnya harga-harga saham, praktik <em>margin trading</em> yang tidak sesuai aturan, manipulasi pasar (cornering), penyesatan informasi, laporan MKBD yang tidak benar,  beredarnya reksa dana fiktif Antaboga yang dijual di Bank Century, sampai penyelewengan dana nasabah di Sarijaya Sekuritas. </strong></p>
<p><strong>Ada</strong><strong> juga sejumlah kasus dugaan pelanggaran yang dilakukan emiten dari kelompok usaha Bakrie. Misalnya, akuisisi PT Fajar Bumi Sakti, PT Darma Henwa Tbk, dan PT Pendopo Energi Batubara senilai Rp 6,18 triliun yang dinilai banyak kalangan tidak wajar. Akuisisi yang dinilai material itu juga dianggap tidak mematuhi aturan karena tanpa persetujuan pemegang saham. </strong></p>
<p><strong>Masih banyak kasus-kasus di industri pasar modal kita ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Yang pasti, semuanya itu  menjadi hambatan besar untuk pengembangan pasar modal negeri ini. </strong></p>
<p><strong>Kita berharap semua kasus itu diungkap secara transparan karena salah satu prinsip utama di pasar modal adalah keterbukaan. Yang bersalah haruslah ditindak tegas. </strong></p>
<p><strong>Semua harapan itu sangat tergantung dari kemauan dan ketegasan Bapepam-LK dalam mengungkap pelanggaran serta menindak yang salah. Namun, sudahkah hal itu dilakukan? Sudahkah Bapepam-LK menegakkan aturan-aturan pasar modal secara tegas atau justru masih lemah? </strong></p>
<p><strong>Untuk mengetahui bagaimana persepsi kita semua terhadap pertanyaan itu, mohon luangkan sedikit waktu Anda untuk </strong><strong>menetapkan pilihan pada alat polling yang tersedia dibagian bawah tulisan ini atau yang ada di Pages Polling . </strong><strong>Hasil polling tidak ditujukan untuk kepentingan pihak manapun, hanya sekadar menjadi referensi bagi kita semua. Saya sangat menghargai waktu dan pilihan Anda. Terima kasih.</strong></p>
<p><strong>tabik</strong></p>
<p><strong>Reinhard Nainggolan</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<div><strong><a name="pd_a_1350813"></a><div class="PDS_Poll" id="PDI_container1350813" style="display:inline-block;"></div><script type="text/javascript" language="javascript" charset="utf-8" src="http://static.polldaddy.com/p/1350813.js"></script>
		<noscript>
		<a href="http://polldaddy.com/poll/1350813/">View This Poll</a><br/><span style="font-size:10px;"><a href="http://polldaddy.com/features-surveys/">survey software</a></span>
		</noscript></strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong> </strong></div>
<p><strong> </p>
<p></strong></p>
<p><strong></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=98&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/09/polling-ketegasan-bapepam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://reinhardnainggolan.files.wordpress.com/2009/02/kartu-merah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kartu-merah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IPO-1: Joki-joki Pasar Modal Indonesia</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/09/joki-joki-pasar-modal-indonesia/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/09/joki-joki-pasar-modal-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 15:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Reinhard Nainggolan Setelah sempat tertunda selama dua pekan, PT Adaro Energy akhirnya dapat melakukan penawaran umum perdana sahamnya, 8-10 Juli 2008. Minimnya jumlah saham yang ditawarkan kepada investor ritel mengakibatkan saham perdana perusahaan tambang batu bara itu diperebutkan. &#8220;Ini lagi jual saham Adora mas,&#8221; kata Nurpuji (30), warga Ciputat, Tangerang, yang ditemui di Kawasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=96&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Reinhard Nainggolan</strong></p>
<p><strong><em>Setelah sempat tertunda selama dua pekan, PT Adaro Energy akhirnya dapat melakukan penawaran umum perdana sahamnya, 8-10 Juli 2008. Minimnya jumlah saham yang ditawarkan kepada investor ritel mengakibatkan saham perdana perusahaan tambang batu bara itu diperebutkan.</em></strong></p>
<p><span id="more-96"></span></p>
<p><strong>&#8220;Ini lagi jual saham Adora mas,&#8221; kata Nurpuji (30), warga Ciputat, Tangerang, yang ditemui di Kawasan Semanggi Expo, Jakarta, kemarin siang. Nurpuji bersama dengan ratusan orang lainnya antre demi memperoleh sebundel formulir pemesanan saham perdana PT Adaro Energy.</strong></p>
<p><strong>Namun, Nurpuji diam membisu saat ditanya jumlah saham yang akan ia pesan. Ia hanya menunjukkan sebuah kertas putih bertuliskan &#8220;Investor Portfolio&#8221;, yang dikeluarkan sebuah perusahaan sekuritas.</strong></p>
<p><strong>Dari gelagat dan caranya menjawab, tidak sulit untuk mengetahui bahwa Nurpuji adalah &#8220;joki&#8221; saham yang dibayar seseorang untuk mendapatkan formulir saham Adaro. Kesalahannya menyebutkan &#8220;Adaro&#8221; dengan &#8220;Adora&#8221; pun sudah memberi indikasi kuat.</strong></p>
<p><strong>Tak jauh dari tempat Nurpuji berdiri, tujuh ibu separuh baya tampak serius mendengarkan pengarahan seorang pria berpakaian rapi. &#8220;Kalau ditanya petugas account-nya (rekening) di mana, bilang saja di perusahaan ini,&#8221; kata pria itu sambil menunjukkan sebuah nama perusahaan sekuritas yang tertera pada kertas investor portfolio.</strong></p>
<p><strong>Ketujuh ibu itu pun menghafalkan nama perusahaan sekuritas tersebut. Namun, mereka kesulitan membaca &#8220;Securities&#8221;, kata kedua dari nama perusahaan sekuritas itu. Yang terdengar, mereka mengucapkan securities dengan se-ku-ri-ti-es, yang seharusnya dibaca si&#8217;kyuritis.</strong></p>
<p><strong>Mereka memiliki &#8220;profesi&#8221; yang sama dengan Nurpuji, yakni menjadi bagian dari ratusan &#8220;joki&#8221; yang pada Selasa (8/7) ikut antre untuk mendapatkan formulir pemesanan saham perdana Adaro.</strong></p>
<p><strong>Para &#8220;joki&#8221; itu datang menggunakan bus umum yang disewa seseorang yang disebut &#8220;kepala joki&#8221;. Dari &#8220;kepala joki&#8221; inilah para &#8220;joki&#8221; mendapatkan investor portfolio, selembar kertas yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki portofolio saham di sebuah perusahaan sekuritas.</strong></p>
<p><strong>Anehnya, nama yang tertera pada investor portfolio itu sama dengan nama yang tertera pada KTP &#8220;joki&#8221;. &#8220;Semuanya sudah diatur orang dalam,&#8221; kata Asri, seorang kepala &#8220;joki&#8221;.</strong></p>
<p><strong>Asri mengaku mengerahkan 50 joki. Masing-masing joki, yang sehari-hari adalah ibu rumah tangga, pengamen, tukang ojek, dan jenis pekerjaan kasar lainnya, diberi upah Rp 30.000 untuk satu bundel formulir.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Biasanya saya dapat 2-3 formulir, tetapi hari ini hanya dapat satu,&#8221; kata Narini (35), seorang &#8220;joki&#8221; yang membawa tiga anaknya yang masih kecil saat mengantre.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Saya belum dapat, tidak kuat antrenya,&#8221; ujar Cawit, seorang ibu berusia 70 tahun.</strong></p>
<p><strong>Asri sendiri mendapat upah Rp 10.000 untuk setiap formulir yang berhasil didapatkan &#8220;joki&#8221;. Upah itu diperoleh dari seseorang yang disebut dengan bandar &#8220;joki&#8221; atau &#8220;bos besar&#8221;.</strong></p>
<p><strong>Seorang bandar &#8220;joki&#8221;, sebut saja Joan, menuturkan, ia mengeluarkan Rp 50.000 per formulir. Selain untuk kepala &#8220;joki&#8221; dan joki, dana itu untuk menyewa bus dan uang makan &#8220;joki&#8221;.</strong></p>
<p><strong>Rahasia umum</strong></p>
<p><strong>Setelah mendapatkan formulir cukup banyak, Joan mengatakan, ia akan mengisi berapa banyak saham yang dipesan dan kemudian mentransfer dana ke bank sesuai nilai saham yang dipesan. Bukti transfer ini selanjutnya ditunjukkan kepada petugas IPO untuk divalidasi.</strong></p>
<p><strong>Saat ditanya, apakah petugas IPO tidak curiga ketika Joan memvalidasi cukup banyak formulir, Joan hanya menjawab, &#8220;Mereka juga sudah tahu, sudah rahasia umum.&#8221;</strong></p>
<p><strong>Bahkan, kata Joan, saat proses penjatahan, semua saham yang dipesan akan masuk ke rekening portofolionya, sekalipun dalam formulir pemesanan yang tertera adalah nama para &#8220;joki&#8221;.</strong></p>
<p><strong>&#8220;Semuanya sudah diatur. Badan Admistrasi Efek juga tau kok,&#8221; katanya.</strong></p>
<p><strong>Joan mengaku terpaksa mengerahkan dan mengkordinir sekitar 50 joki karena sulit mendapatkan saham-saham perdana yang harganya berpotensi naik saat diperdagangkan di pasar sekunder nanti. &#8220;Kalau sahamnya jelek, baru dalam porsi besar dilepas ke investor ritel,&#8221; katanya.</strong></p>
<p><strong>Danatama Makmur memang hanya mengalokasikan 222,78 juta saham perdana Adaro kepada publik. Jumlah itu setara dengan dua persen dari total saham Adaro yang akan dilepas kepada publik, yaitu sebanyak 11,139 miliar saham. </strong><strong>Sisanya, 98 persen, sudah dicadangkan untuk investor institusi, khususnya institusi asing.</strong></p>
<p><strong>Dengan harga Rp 1.100, sebanyak 227,78 juta saham Adaro itu setara dengan Rp 245 miliar, jumlah yang relatif kecil bagi 250.000 investor ritel di Indonesia. Apalagi, bila dibandingkan dengan target perolehan dana IPO Adaro sebesar Rp 12,25 triliun.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=96&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/09/joki-joki-pasar-modal-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Perilaku Investor dan Pergerakan Harga Saham</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/07/studi-perilaku-investor-dan-pergerakan-harga-saham/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/07/studi-perilaku-investor-dan-pergerakan-harga-saham/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 10:43:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Human behaviour is the key determinants of the market  Woody Dorsey Oleh: Reinhard Nainggolan Bagaikan kerumunan lebah yang terbang mengikuti sang ratu kemana saja, demikianlah perilaku investor di pasar modal. Keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada  faktor fundamental, melainkan kemana  kerumunan lebah akan terbang! Krisis finansial Amerika Serikat seakan belum puas menebar dampak negatif ke pasar modal Indonesia. Harga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=28&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>Human behaviour is the key determinants of the market</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Woody Dorsey</strong></p>
<p><strong>Oleh: Reinhard Nainggolan</strong></p>
<p><strong><em>Bagaikan kerumunan lebah yang terbang mengikuti sang ratu kemana saja, demikianlah perilaku investor di pasar modal. Keputusan investasi tidak lagi didasarkan pada  faktor fundamental, melainkan kemana  kerumunan lebah akan terbang!</em></strong><span id="more-28"></span></p>
<p><strong>Krisis finansial Amerika Serikat seakan belum puas menebar dampak negatif ke pasar modal Indonesia. Harga saham masih saja tergerus sekalipun fundamental perekonomian dan mayoritas perusahaan publik kita cukup baik.</strong></p>
<p><strong>Semuanya berawal dari aksi melepas saham oleh investor asing yang tengah membutuhkan likuiditas. Kondisi ini diperparah sikap investor domestik yang tidak mau ketinggalan: bagaikan kerumuman lebah terbang mengikuti sang ratu kemana saja.</strong></p>
<p><strong>Kinerja keuangan emiten yang cemerlang tidak lagi jadi pertimbangan. Sekadar menyebut contoh, pendapatan dan laba bersih PT Astra International, PT Bank Mandiri, dan PT Indofood Sukses Makmur pada triwulan III tahun 2008 melonjak diatas 20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Hal serupa dialami banyak emiten lainnya.</strong></p>
<p><strong>Beberapa diantaranya bahkan berhasil meningkatkan laba bersih 50-150 persen. Namun, dalam waktu bersamaan harga saham masing-masing perseroan terus merosot dan hingga 21 November lalu telah anjlok 40-60 persen dibandingkan dengan posisi awal Januari 2008.   </strong></p>
<p><strong>Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 ini diperkirakan masih diatas lima persen, jauh melebihi pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan IMF hanya berada di kisaran 2-3 persen. Namun, faktor fundamental ini lagi-lagi ditanggapi dingin.</strong></p>
<p><strong>Puluhan saham di BEI yang sudah undervalued bahkan diperdagangkan dengan harga recehan (penny stock) tidak juga menarik minat investor. Yang ada, aksi jual membabi-buta beberapa kali membuat Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam, bahkan melebihi pelemahan indeks Dow Jones di AS dalam sehari. Akibatnya, IHSG yang tahun 2006 melonjak 55 persen dan tahun 2007 naik 52 persen, pada tahun ini sungguh menyedihkan.</strong></p>
<p><strong>Dihitung dari posisi indeks akhir tahun 2007, sampai 21 November lalu IHSG telah merosot 57,94 persen, sedangkan Dow Jones hanya 43,07 persen. Indonesia memang tidak sendirian, karena seluruh indeks bursa dunia anjlok, bahkan China mencapai 63,66 persen dan Rusia 75,5 persen.</strong></p>
<p><strong>Keruntuhan harga saham juga membawa dampak negatif terhadap nilai tukar rupiah yang belakangan ini diperdagangkan di kisaran Rp 11.000-Rp 12.000 per dollar AS. Semua ini menggelitik kita untuk bertanya, siapa sebenarnya yang dilanda krisis?</strong></p>
<p><strong>Perilaku Kawanan</strong></p>
<p><strong>Ditinjau dari logika ekonomi, fakta-fakta diatas menjadi irasional karena harga saham tidak lagi mencerminkan nilai intrinsik atau faktor fundamentalnya. Hal apakah yang bisa menjelaskan semua ini? </strong></p>
<p><strong>Woody Dorsey, dalam bukunya berjudul Behavioral Trading (2003), menyatakan, &#8220;Human behaviour is the key determinants of the market&#8221;. Ini menegaskan bahwa kunci pergerakan harga saham bukanlah faktor fundamental dan teknikal, melainkan perilaku manusia (baca: investor).</strong></p>
<p><strong>Perilaku itu dibentuk oleh level confidence (keyakinan) dan expectation (harapan) investor. Di saat pasar bergerak naik (bullish), keyakinan dan harapan investor cukup tinggi, melebihi hitung-hitungan fundamental. Sebaliknya, ketika pasar melemah (bearish), keyakinan dan harapan pasar teramat rendah, sekalipun faktor fundamental cukup menjanjikan.</strong></p>
<p><strong>Studi pengaruh perilaku manusia dalam menggerakkan roda perekonomian sudah dilakukan para ekonom dunia sejak lama, setidaknya mulai era Adam Smith di abad ke-18. Dalam bukunya, The Money Game, bapak ekonomi kapitalisme itu membagi perilaku alamiah manusia menjadi dua bagian, perilaku ketakutan (fear) dan perilaku keserakahan (greed).</strong></p>
<p><strong>Ketika perilaku keserakahan lebih dominan, maka perekonomian akan berjalan sangat cepat, yang kemudian bisa menggelembung dan pecah, seperti yang telah dialami dunia ini beberapa kali. Gerak cepat perekonomian ini didorong aksi-aksi spekulasi yang bermunculan ketika perilaku serakah menguat. </strong></p>
<p><strong>Sebaliknya, di saat perilaku ketakutan mendominasi, maka perekonomian akan melambat, bahkan jalan di tempat. Pelaku ekonomi menjadi cenderung menunggu daripada menciptakan langkah terobosan.</strong></p>
<p><strong>Dalam konteks pasar modal, kedua perilaku itu merupakan akselerator dari tren pergerakan indek saham. Terjadinya krisis keuangan AS pada saat ini adalah contoh nyata perubahan perilaku investor, dari serakah menjadi cemas dan takut.</strong></p>
<p><strong>Perilaku investor juga pernah diteliti Paul Krugman, pemenang nobel ekonomi tahun 2008. Dalam bukunya, The Great Unraveling (2004), Krugman menulis bahwa salah satu perilaku investor global adalah perilaku mengikuti isyarat kawanan (run with herd).</strong></p>
<p><strong>Perilaku kawanan atau sering disebut dengan Herding Behaviour ini berkembang pesat ketika korelasi antar pasar finansial dunia menjadi sangat tinggi. Globaliasasi finansial membuat perilaku investor di suatu bursa-biasanya bursa yang lebih besar-akan ikuti oleh investor di bursa lainnya.</strong></p>
<p><strong>Yang juga marak terjadi di pasar modal adalah perilaku Noise Trading Behaviour atau perilaku mengikuti rumor. Perilaku ini muncul akibat banyaknya rumor yang sengaja dihembuskan untuk memicu kegaduhan dan kesimpangsiuran di saat kondisi pasar tidak normal. Perilaku ini menunjukkan bagaimana investor akan berlomba melakukan aksi beli jika mendengar rumor positif dan sebaliknya melakukan aksi jual secara masif jika rumornya negatif.</strong></p>
<p><strong>Bagaimana Kedepan?</strong></p>
<p><strong>Investor emerging market adalah investor yang paling mudah dihinggapi semua perilaku diatas. Perilaku-perilaku inilah yang sesungguhnya menjadi akselerator penyebaran krisis.</strong></p>
<p><strong>Krisis keuangan yang semula terjadi di AS menjalar menjadi krisis keuangan global. Krisis Wallstreet merambat menjadi krisis di Bursa Efek Indonesia.</strong></p>
<p><strong>Tidak seorang pun dapat meramal dengan tepat kapan perekonomian global pulih. Yang pasti, sepanjang investor di BEI masih terbelenggu oleh keyakinan dan ekpektasi negatif, maka masa bearish akan bertambah panjang. </strong></p>
<p><strong>Kita tentu tidak ingin kondisi ini berlangsung lama. Untuk itu, keyakinan dan harapan investor perlu dibangun dalam porsi yang tepat, sesuai dengan fakta dan kondisi sebenarnya.</strong></p>
<p><strong>Membangun keyakinan dan harapan investor ini, misalnya dengan mempercepat, memperbanyak, dan meningkatkan kualitas program-program edukasi pasar modal. Edukasi ini perlu menekankan bahwa pasar modal adalah wadah investasi jangka panjang yang lebih mempertimbangkan faktor fundamental dibanding lainnya.</strong></p>
<p><strong>Ketika dasar pertimbangan adalah fundamental, investor akan mengukur nilai dan pertumbuhan harga saham beserta segala risikonya secara lebih wajar. Keyakinan dan harapan investor pun akan diletakkan pada tingkat yang wajar, bukan berdasarkan ketakutan maupun keserakahan yang mengakibatkan investor tidak berbuat apa-apa atau justru spekulatif.</strong></p>
<p><strong>Berbagai program edukasi memang tidak lantas membentuk horison investasi seluruh investor menjadi jangka panjang. Bagaimanapun, investor-investor jangka pendek yang cenderung lebih spekulatif tetap akan ada dan kadangkala dibutuhkan untuk menjaga likuiditas pasar.</strong></p>
<p><strong>Namun, porsi investor jangka panjang yang lebih besar haruslah terus diupayakan. Karena, ketika sebuah perekonomian didominasi oleh pelaku yang spekulatif, maka perekonomian itu akan menjadi tidak stabil serta mengarah pada krisis dan resesi. Setidaknya, itulah yang disampaikan Hyman Minsky, pelopor teori Instabilitas Finansial.</strong></p>
<p><strong>Selain edukasi, hal mendesak lainnya untuk dilakukan adalah mewujudkan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien. Berbagai bentuk pelanggaran, seperti manipulasi pasar dan penyesatan informasi, harus dihentikan dengan menajatuhkan sanksi berat kepada para pelakunya tanpa pandang bulu. Prinsip keterbukaan informasi harus tetap dijunjung tinggi, baik oleh emiten, perusahaan efek, apalagi oleh otoritas.</strong></p>
<p><strong>Terwujudnya pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien akan menjadi oase bagi investor di tengah tingginya ketidakpastian dunia investasi belakangan ini. Dengan itu, kekhawatiran masyarakat bahwa investasi di pasar modal hanya akan menjadi permainan spekulan atau orang-orang serakah yang melakukan manipulasi tingkat tinggi, akan hilang atau paling tidak berkurang.</strong></p>
<p><strong>Akhirnya, dengan kandungan edukasi pasar modal yang cukup memadai serta arena permainan (baca: bursa) yang teratur, wajar, dan efisien, pelaku pasar modal kita akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka akan menjadi investor yang rasional, yang tidak lagi sekadar menjadi pengekor</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center">.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=28&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/07/studi-perilaku-investor-dan-pergerakan-harga-saham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menegakkan Kedaulatan Pasar Modal Indonesia</title>
		<link>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/07/menegakkan-kedaulatan-pasar-modal-indonesia/</link>
		<comments>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/07/menegakkan-kedaulatan-pasar-modal-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 06:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>reinhardnainggolan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capital Market]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://reinhardnainggolan.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Reinhard Nainggolan Krisis finansial Amerika Serikat yang merambat ke berbagai penjuru dunia sungguh sebuah ironi. Kesalahan bahkan keserakahan bersumber dari pelaku-pelaku ekonomi negara adidaya itu, namun dampaknya merambat kemana-mana. Perekonomian Indonesia yang sebelumnya membubung tinggi kini berbalik arah. Indeks saham dan nilai tukar rupiah terpuruk dalam. Likuditas perbankan mengering. Akankah ironi ini terus berlangsung? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=3&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><strong>Oleh: Reinhard Nainggolan</strong></span></p>
<p><span><br />
</span><em><strong>Krisis finansial Amerika Serikat yang merambat ke berbagai penjuru dunia sungguh sebuah ironi. Kesalahan bahkan keserakahan bersumber dari pelaku-pelaku ekonomi negara adidaya itu, namun dampaknya merambat kemana-mana. Perekonomian Indonesia yang sebelumnya membubung tinggi kini berbalik arah. Indeks saham dan nilai tukar rupiah terpuruk dalam. Likuditas perbankan mengering. Akankah ironi ini terus berlangsung?</strong></em></p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p><strong>Saat membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia 2 Januari 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis indeks harga saham gabungan tahun 2008 akan tumbuh minimal 30 persen, bahkan lebih. Optimisme itu didukung prestasi IHSG yang naik 52 persen pada 2007 dan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2008 di atas enam persen yang ditunjang tingginya konsumsi dan proyek-proyek infrastruktur.</strong></p>
<p><strong>Namun, masa yang semula diharapkan manis, tahun 2008 tiba-tiba menjadi pahit bagi industri keuangan Indonesia. Aksi jual saham besar-besaran para investor asing yang tengah membutuhkan likuiditas dan kemudian diikuti investor domestik yang panik membuat indeks saham terpelanting ke jurang.</strong></p>
<p><strong>IHSG yang Januari lalu sempat pada level 2.830 kini bergerak di sekitar 1.200 poin atau telah tergerus hampir 60 persen. Sementara itu, di tengah tingginya semangat perbankan menyalurkan kredit, badai krisis ini seketika menghancurkan perbankan nasional.</strong></p>
<p><strong>Likuiditas yang sebelumnya berlimpah langsung macet karena bank saling enggan meminjamnya dananya. Likuiditas mengering. Suku bunga pun terkerek naik menciptakan berbagai ranjau risiko bagi perjalanan industri keuangan.<br />
Ini mendorong kita untuk bertanya bagaimana nasib pasar modal dan perbankan Indonesia tahun 2009?</strong></p>
<p><strong>Pengaruh Eksternal dan Internal</strong></p>
<p><strong>Tidak seorang pun dapat memprediksi tepat seperti apa kondisi pasar modal kita nanti, terlebih jika dilihat dari posisi IHSG tahun 2009. Sulit diperkirakan karena terlalu banyak faktor yang memengaruhi.</strong></p>
<p><strong>Dari sisi eksternal dan sebagai konsekuensi semakin terintegrasinya pasar modal dunia serta perilaku investor kita yang cenderung mengekor investor asing, pergerakan IHSG masih akan sangat dipengaruhi penguatan atau pelemahan indeks bursa regional dan global. Sampai saat ini, kita juga belum melihat penyaluran dana talangan (bailout) dan langkah-langkah lain yang dilakukan Pemerintah AS dan sejumlah negara di Eropa maupun benua lainnya telah memberikan hasil signifikan.</strong></p>
<p><strong>Dari sisi internal tidak banyak yang bisa diharapkan. Upaya Bank Indonesia mengangkat nilai tukar rupiah tak kunjung berbuah meski cadangan devisa telah digelontorkan lebih dari 10 miliar dollar AS.</strong></p>
<p><strong>Keseriusan perusahaan BUMN melaksanakan program beli balik (buy back) saham pun masih diragukan. Sampai 1 Desember 2008, dana yang dibelanjakan untuk beli balik saham BUMN baru Rp 253 miliar atau sekitar 3,8 persen dari cadangan dana sebesar Rp 6,5 triliun.</strong></p>
<p><strong>Kita juga mendengar betapa besarnya ancaman pertambahan jumlah penganggur di dalam negeri.Semua ini memberikan sentimen negatif bagi investor untuk mulai atau meningkatkan investasinya di pasar saham.</strong></p>
<p><strong>Di tengah minimnya kepercayaan investor terhadap masa depan pasar modal, kita berharap pemerintah dapat melakukan berbagai langkah nyata untuk menggerakkan perekonomian tahun 2009 nanti. Rencana pemerintah mempercepat berbagai proyek infrastruktur perlu segera direalisasikan agar sektor riil tetap berjalan dan memberikan efek lanjutan bagi emiten- emiten pasar modal.</strong></p>
<p><strong>Bursa yang mandiri</strong></p>
<p><strong>Dalam hal yang lebih teknis, otoritas pasar modal kita juga perlu membangun bursa yang lebih kuat dan mandiri. Ketergantungan terhadap investasi asing di sektor keuangan (saham, obligasi, dan berbagai turunannya) harus mulai dikurangi dengan cara meningkatkan basis investor lokal.</strong></p>
<p><strong>Data menunjukkan, sampai akhir November lalu, nilai portofolio investor asing masih bertengger pada angka 63-65 persen dari total kapitalisasi pasar saham di Indonesia yang berjumlah sekitar Rp 1.000 triliun. Besarnya persentase kepemilikan asing ini, di satu sisi meningkatkan kapitalisasi dan likuiditas pasar saham dalam negeri, tetapi di sisi lain terbukti menjadi penentu pergerakan indeks.</strong></p>
<p><strong>Karena menjadi penentu, investor domestik kerap kali mengekor kepada investor asing sehingga selalu terlambat dalam mengambil keputusan, menjual atau membeli. Terlambat memutuskan berarti terlambat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi atau terlambat memperkecil risiko kerugian.</strong></p>
<p><strong>Memperbesar komposisi investor dalam negeri di BEI memang bukanlah upaya yang mudah. Namun, itu adalah pilihan terbaik jika kita tetap menginginkan pasar modal yang lebih tangguh dan tidak mudah dipengaruhi oleh investor asing serta gejolak ekonomi di negara lain.</strong></p>
<p><strong>Edukasi pasar modal</strong></p>
<p><strong>Cara yang paling mungkin dilakukan untuk memperbesar komposisi investor lokal adalah dengan mempercepat, memperbanyak, dan meningkatkan kualitas program-program edukasi pasar modal. Program edukasi harus mampu memberikan gambaran bahwa pasar modal adalah wadah investasi sangat menjanjikan, tentu selama investor mahir menggunakan berbagai instrumen analisis investasi di bursa saham.</strong></p>
<p><strong>Selain edukasi, otoritas juga harus terus-menerus berupaya mewujudkan pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien. Berbagai bentuk pelanggaran, seperti manipulasi pasar dan penyesatan informasi, harus dihentikan. Prinsip keterbukaan informasi harus dijunjung tinggi.</strong></p>
<p><strong>Dengan komposisi investor lokal lebih besar serta memiliki kandungan pengetahuan memadai dengan wadah pasar modal yang teratur, wajar, dan efisien, bukan hal mustahil jika ke depan pergerakan IHSG akan lebih dipengaruhi kondisi perekonomian riil domestik, bukan ekonomi negara lain. Bukan pula oleh investor asing, melainkan investor lokal. Dengan kondisi seperti itu, kita berharap pasar modal Indonesia akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/reinhardnainggolan.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=reinhardnainggolan.wordpress.com&amp;blog=6487286&amp;post=3&amp;subd=reinhardnainggolan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://reinhardnainggolan.wordpress.com/2009/02/07/menegakkan-kedaulatan-pasar-modal-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca40021b9713c600046677fc81a881e1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rei</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
